Semua tulisan

Umum 23 Oktober 2026· AI, pendidikan, belajar, riset, siswa

AI di Sekolah: Nilai PR Naik, Nilai Ujian Justru Turun

Studi terhadap 26.811 siswa di Tiongkok menemukan AI membuat PR lebih cepat dan nilainya naik, tetapi nilai ujian tertutup turun. Apa artinya bagi cara kita memakai AI untuk belajar?

Kecerdasan buatan membuat banyak pekerjaan terasa lebih ringan, termasuk pekerjaan rumah sekolah. Tetapi apakah tugas yang selesai lebih cepat berarti kita belajar lebih banyak? Sebuah studi besar dari Tiongkok yang belakangan ramai dibahas memberi jawaban yang patut kita renungkan bersama.

Apa yang diteliti

Studi berjudul The Generative AI Learning Penalty: Evidence from Chinese Secondary Education ditulis oleh David Strömberg, Victor Lei, dan Yanhui Wu. Para peneliti memakai data administratif selama 30 bulan dari 26.811 siswa kelas 7 sampai 12 di sebuah kabupaten di Tiongkok bagian tengah. Data itu mencakup sembilan mata pelajaran dan menghubungkan nilai serta lama pengerjaan pekerjaan rumah dengan ujian bulanan tertutup (closed-book), ujian tingkat kabupaten, hingga ujian masuk SMA (Zhongkao) dan perguruan tinggi (Gaokao).

Karena siswa mulai memakai AI pada waktu yang berbeda-beda, peneliti dapat membandingkan perubahan hasil belajar sebelum dan sesudah seorang siswa mulai memakai AI, dibandingkan dengan siswa yang belum memakainya.

Pekerjaan rumah lebih baik, ujian lebih buruk

Hasil pertamanya tidak mengejutkan: AI memang membuat pekerjaan rumah lebih produktif. Dalam enam bulan setelah mulai memakai AI, waktu pengerjaan satu tugas turun dari sekitar 64 menit menjadi 45 menit, dan nilai pekerjaan rumah naik sekitar 18% dibanding rata-rata sebelumnya.

Namun pada ujian tertutup, arahnya berbalik. Nilai ujian bulanan turun sekitar 20% dalam enam bulan. Dampak pada ujian penting datang lebih lambat tetapi sama beratnya: setelah sekitar dua tahun, nilai ujian masuk perguruan tinggi turun sekitar 18% dan nilai ujian masuk SMA turun sekitar 24%.

Artinya, ada jarak yang lebar antara menyelesaikan tugas dan menguasai materi. Para peneliti juga mencatat bahwa studi berdurasi pendek, yang selama ini mendominasi penelitian tentang AI di pendidikan, cenderung meremehkan biaya belajar jangka panjangnya.

Siapa yang paling terdampak

Penurunan terbesar terjadi pada mata pelajaran ilmu sosial, disusul sains dan matematika, lalu bahasa. Dampaknya juga lebih besar pada siswa yang lebih muda, siswa berprestasi tinggi, dan siswa laki-laki.

Temuan paling penting justru ada di sini: kerugian belajar terkonsentrasi pada sekitar 80% pengguna AI yang pola pemakaiannya mengarah pada mengalihdayakan pekerjaan rumah. Tanda-tandanya adalah waktu pengerjaan yang sangat singkat tetapi nilai yang sangat tinggi. Sebaliknya, pengguna AI yang tetap menghabiskan waktu kurang lebih sama dengan siswa yang tidak memakai AI hanya mengalami penurunan kecil.

Jadi masalahnya bukan AI itu sendiri, melainkan cara memakainya.

Catatan kehati-hatian

Seperti semua penelitian, studi ini punya batasan. Desainnya bergantung pada asumsi statistik tertentu, ukuran "mengalihdayakan tugas" disimpulkan dari jejak administratif, bukan dari isi percakapan dengan AI, dan lokasinya adalah satu kabupaten dengan sistem ujian nasional yang khas. Hasilnya tidak otomatis berlaku sama di setiap sekolah atau negara. Meski begitu, arah temuannya sejalan dengan beberapa eksperimen lain yang menemukan bahwa alat AI yang langsung memberi jawaban dapat menurunkan nilai ujian tertutup.

Pelajaran untuk kita sebagai pengguna AI

Di Sumber AI, kami percaya AI sebaiknya menjadi teman berpikir, bukan pengganti berpikir. Studi ini menguatkan keyakinan itu. Beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dicoba:

  • Minta penjelasan, bukan hanya jawaban. Tanyakan mengapa dan bagaimana, lalu coba jelaskan kembali dengan kata-kata sendiri.
  • Kerjakan dulu, baru periksa. Susun draf atau jawaban sendiri, lalu gunakan AI untuk memeriksa, memberi umpan balik, atau menunjukkan bagian yang keliru.
  • Jadikan AI penguji. Minta AI membuat soal latihan atau kuis singkat tentang materi yang sedang dipelajari.
  • Jangan buru-buru. Jika tugas selesai jauh lebih cepat dari biasanya, tanyakan pada diri sendiri: apakah saya benar-benar memahaminya?
  • Kutip dan telusuri sumber. Untuk tulisan dan penelitian, biasakan memeriksa rujukan asli, bukan hanya ringkasan.

Bagi orang tua dan guru, studi ini juga mengingatkan bahwa nilai tugas yang tinggi belum tentu mencerminkan pemahaman. Penilaian tanpa bantuan alat dan diskusi langsung tetap penting.

Penutup

AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi belajar tetap membutuhkan usaha. Kabar baiknya, studi ini juga menunjukkan bahwa siswa yang memakai AI sambil tetap bekerja keras hampir tidak kehilangan apa pun. Kuncinya ada pada kebiasaan kita: memakai AI untuk memperdalam pemahaman, bukan untuk melewatinya.


Sumber: David Strömberg, Victor Lei, dan Yanhui Wu, "The Generative AI Learning Penalty: Evidence from Chinese Secondary Education", CEPR Discussion Paper DP21577 (cepr.org/publications/dp21577); ringkasan di VoxEU: The generative AI learning penalty in secondary school.

Tulisan lain