Umum 5 November 2026· Pusat Data, Infrastruktur AI, Energi, Kebijakan AI, Amerika Serikat
Warga AS Menolak Pusat Data AI: 46 dari 47 Pemungutan Suara Lokal Pilih Pembatasan
Dalam pemilu sela AS, pemilih mendukung pembatasan pusat data di 46 dari 47 pemungutan suara lokal. Apa alasannya, apa taruhannya bagi industri AI, dan apa pelajarannya bagi Indonesia?

Ledakan kecerdasan buatan biasanya kita bicarakan lewat model baru, chatbot yang makin pintar, atau agen yang bisa mengerjakan tugas sendiri. Namun di balik semua itu ada sesuatu yang sangat fisik: pusat data (data center) yang butuh lahan, listrik, dan air dalam jumlah besar. Pekan ini, pemilih di Amerika Serikat memberi sinyal yang cukup tegas tentang hal tersebut.
Apa yang terjadi?
Dalam pemilu sela (midterm) AS pada 3 November 2026, banyak daerah ikut memutuskan pertanyaan lokal (ballot measure) tentang pusat data. Menurut hitungan Ballotpedia, situs pelacak pemilu nonpartisan, per 4 November 2026 sudah ada 47 pertanyaan terkait pusat data yang diputuskan sepanjang tahun ini. Di 46 di antaranya, mayoritas pemilih memilih pembatasan yang lebih ketat, baik dengan menyetujui larangan, moratorium, aturan zonasi, dan syarat tambahan, maupun dengan menolak usulan yang mempermudah pembangunan.
Satu-satunya pengecualian ada di Harwood, North Dakota. Di sana pemilih justru menolak tambahan proses peninjauan untuk proyek industri tertentu, termasuk pusat data.
CNBC melaporkan bahwa pada hari pemungutan suara saja ada 41 pertanyaan lokal terkait pusat data di 10 negara bagian. Ohio menjadi medan utama dengan 21 pertanyaan, lebih dari separuh total. Isu ini juga muncul di California, Florida, Illinois, Kansas, Maine, New Jersey, Nevada, dan Wisconsin.
Mengapa warga menolak?
Kekhawatiran yang paling sering muncul cukup membumi. Pusat data AI menyerap listrik dan air dalam jumlah besar, sehingga warga khawatir tagihan listrik naik, pasokan air tertekan, dan kualitas hidup di lingkungan sekitar berubah. Bentuk pembatasannya beragam, mulai dari larangan pusat data di seluruh zona kota hingga jeda sementara (moratorium) selama beberapa bulan sambil pemerintah lokal menyusun aturan permanen.
Isu ini juga ikut memengaruhi pilihan pemilih. Dalam CNBC Voter Poll, 56% pemilih menyebut pusat data sebagai faktor yang krusial atau besar dalam keputusan mereka. CNBC juga mencatat bahwa isu pusat data ikut mewarnai sejumlah pemilihan gubernur dan senator, terutama di Ohio dan Texas.
Taruhannya bagi industri AI
Hasil ini datang saat industri AI sedang membangun infrastruktur secara besar-besaran. CNBC mencontohkan proyek kampus PORTS-Pike di Ohio. Pada Agustus lalu, OpenAI mengumumkan bahwa mereka telah mengamankan kapasitas komputasi 8 gigawatt di sana, dan proyek itu disebut sebagai rencana kampus pusat data AI terbesar di dunia. Kapasitasnya dijadwalkan beroperasi bertahap mulai 2028.
Raksasa teknologi seperti Alphabet, Amazon, Microsoft, dan Meta masing-masing menghabiskan ratusan miliar dolar per tahun untuk infrastruktur AI. Jika izin pembangunan makin sulit didapat, jadwal proyek bisa mundur dan biayanya bisa naik. Pada akhirnya, hal ini juga bisa memengaruhi ketersediaan dan harga layanan AI yang kita pakai sehari-hari.
Apa artinya bagi Indonesia?
Berita ini terjadi di Amerika Serikat, tetapi pelajarannya relevan bagi kita. Indonesia juga menjadi salah satu tujuan investasi pusat data di Asia Tenggara. Pertanyaan yang sama cepat atau lambat akan muncul di sini: dari mana listriknya, berapa banyak air yang dipakai untuk pendinginan, siapa yang menanggung biaya jaringan listrik, dan apa manfaatnya bagi warga sekitar.
Pengalaman di AS menunjukkan bahwa dukungan publik tidak bisa dianggap otomatis. Transparansi soal konsumsi energi dan air, pemakaian energi terbarukan, serta dialog dengan warga sejak awal kemungkinan akan menjadi syarat penting agar pembangunan infrastruktur digital diterima masyarakat.
Batasan dan konteks
Beberapa hal perlu diingat agar kita tidak menarik kesimpulan berlebihan:
- Angka masih bisa berubah. Hitungan 46 dari 47 adalah data Ballotpedia per 4 November 2026, dan beberapa pertanyaan masih menunggu keputusan. Pelacak lain memakai cara klasifikasi berbeda sehingga angkanya tidak persis sama.
- Skalanya lokal. Sebagian besar pertanyaan berlaku di tingkat kota atau kabupaten kecil. Hasil ini tidak otomatis menghentikan pembangunan pusat data di seluruh AS.
- Bukan penolakan terhadap AI itu sendiri. Yang dipersoalkan warga terutama dampak fisik dan biaya pusat data, bukan pemakaian AI secara umum.
- Konteks politik. Pemilu sela dipengaruhi banyak isu lain, sehingga hasilnya tidak bisa dibaca semata-mata sebagai referendum tentang AI.
Coba di Sumber AI
Ingin memahami isu seperti ini lebih dalam? Di Sumber AI, kamu bisa memakai chat untuk merangkum berita, menanyakan istilah seperti moratorium atau gigawatt, atau membandingkan sudut pandang yang berbeda. Fitur jurnal membantu mencatat ide dan bahan bacaan, sementara Studio bisa dipakai untuk mengubah catatanmu menjadi konten. Tetap biasakan untuk mengecek ulang fakta penting ke sumber aslinya.
Sumber
- CNBC: Voters rebuff data centers in every ballot measure except one during the 2026 midterms (4 November 2026)
- Ballotpedia: Data center-related ballot measures, 2026