Semua tulisan

Umum 26 Oktober 2026· AI, Matematika, Riset, Akademik, Etika AI, OpenAI, Pendidikan

Lebih dari 1.000 Matematikawan Berikrar Menjauhi AI Komersial: Apa yang Mereka Khawatirkan?

Association for Human Mathematics kini punya 1.008 anggota, 654 di antaranya berikrar tidak memakai AI dalam riset. Apa isi ikrarnya, mengapa gerakan ini muncul, dan apa pelajarannya bagi dunia akademik di Indonesia?

Di tengah kabar AI yang makin piawai memecahkan soal matematika, muncul gerakan yang arahnya justru berlawanan. Lebih dari seribu matematikawan bergabung dengan Association for Human Mathematics (AHM), sebuah perkumpulan yang berikrar menjaga matematika sebagai kerja manusia. Kabar ini ramai dibicarakan di X sepanjang akhir pekan lalu, dan memantik perdebatan menarik: sebenarnya, seberapa jauh AI boleh masuk ke dalam pekerjaan intelektual?

Apa itu Association for Human Mathematics?

Menurut situs resminya, AHM bertujuan melindungi matematika sebagai upaya manusia dan menjaga kemandirian komunitas matematika dari kepentingan korporasi AI. Mereka berpendapat bahwa kemajuan matematika membutuhkan keahlian manusia yang diasah lewat menulis dan berpikir dengan cermat. Jika matematika diproduksi dan "dikonsumsi" secara otomatis, kata mereka, fondasi intelektual bidang ini ikut tergerus.

Halaman anggota AHM saat ini mencatat 1.008 anggota, dan 654 di antaranya tergabung dalam kaukus bebas AI (AI-free caucus). Keanggotaannya gratis, terbuka bagi komunitas riset matematika mulai jenjang pascasarjana, dan daftar anggotanya bersifat publik serta diperbarui kira-kira sepekan sekali.

Isi ikrarnya

Setiap anggota menyetujui dua komitmen dasar:

  1. Tidak bekerja sama dengan perusahaan AI komersial, baik dalam bentuk tenaga teknis, pengetahuan matematika, konsultasi, maupun publisitas.
  2. Tidak menerbitkan teks matematika yang dihasilkan model AI, mulai dari makalah, ulasan, laporan referee, catatan kuliah, bahan ajar, hingga buku. Tulisan matematika, menurut mereka, harus ditulis oleh manusia.

Ada pula komitmen ketiga yang bersifat opsional. Anggota kaukus bebas AI tidak memakai model AI untuk riset. Kegiatan inti seperti mencari bukti, menjelajahi contoh, dan merumuskan pertanyaan penelitian mereka kerjakan tanpa bantuan AI.

Majalah New Scientist menggambarkan dua kelompok ini dengan istilah jenaka: kelompok "vegetarian" yang memegang dua komitmen pertama, dan kelompok "vegan" yang menolak AI dalam riset sepenuhnya.

Mengapa gerakan ini muncul?

New Scientist melaporkan bahwa AHM lahir di tengah reaksi keras terhadap cara perusahaan AI memamerkan kemampuan matematikanya. Salah satu pemicunya adalah langkah OpenAI yang merilis 722 makalah sekaligus pada awal Oktober 2026.

Persoalannya bukan semata benar atau salahnya hasil. Terence Tao dari University of California, Los Angeles, sebelumnya mengingatkan bahwa cara hasil-hasil ini "ditumpahkan" ke komunitas matematika bisa merugikan bidang tersebut. Banyak hasil memang sudah diformalkan sehingga bisa diandalkan, tetapi sering disajikan dengan cara yang sulit dicerna dan terkesan terburu-buru, sehingga para matematikawan kesulitan menangkap makna dan pemahaman di baliknya.

Alasan para anggota pun beragam. Sam Raskin dari Yale University, anggota "vegetarian", menyebut ikrarnya "cukup ringan". Baginya, matematika adalah aktivitas yang pada dasarnya manusiawi dan memberinya kebahagiaan. Ia juga mengkritik adanya tokoh pimpinan di komunitas matematika yang, menurut kabar yang ia dengar, diam-diam dibayar perusahaan AI tanpa mengungkapkannya. Hervé Le Dret dari Sorbonne University menyoroti persoalan etika, termasuk boros sumber daya dan dampak lingkungan AI.

Bukan sekadar menolak

Menariknya, AHM tidak memposisikan diri sebagai kelompok yang menutup mata. Steven Sivek dari Imperial College London, anggota kaukus bebas AI, mengatakan kepada New Scientist bahwa mereka "bukan penyangkal". Menurutnya, perubahan ini nyata, dan profesi matematikawan perlu beradaptasi dengan kenyataan baru.

AHM membentuk kelompok kerja untuk merumuskan usulan kebijakan, antara lain soal melindungi pracetak (preprint) agar tidak sembarangan dipakai sebagai data latih model AI, masalah karier bagi dosen dan peneliti, serta perubahan pengajaran di jenjang sarjana dan pascasarjana.

Relevansinya bagi kita di Indonesia

Perdebatan ini tidak hanya milik matematikawan di kampus-kampus besar dunia. Mahasiswa, dosen, guru, dan penulis di Indonesia menghadapi pertanyaan yang mirip: kapan AI membantu kita berpikir, dan kapan ia justru mengambil alih proses berpikir itu?

Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik:

  • Transparansi itu penting. Jika AI ikut membantu sebuah karya, sampaikan dengan jujur, terutama di lingkungan akademik.
  • Pemahaman tetap nomor satu. Seperti kata Sivek, jangan menerbitkan sesuatu yang tidak bisa Anda pahami dan pertanggungjawabkan.
  • Aturan main perlu dibicarakan bersama. Kampus, jurnal, dan sekolah perlu pedoman yang jelas, bukan sekadar larangan atau kebebasan total.

Keterbatasan dan konteks

  • Angka keanggotaan bisa berubah. Jumlah 1.008 anggota dan 654 anggota kaukus diambil dari halaman resmi AHM, yang diperbarui sekitar sepekan sekali.
  • Ini sikap sebagian komunitas, bukan konsensus. Banyak matematikawan lain justru memanfaatkan AI dalam risetnya, dan sebagian pengkritik di X menilai gerakan ini sebagai upaya menghindari kemajuan.
  • Sebagian detail masih simpang siur. Beberapa laporan media berbeda soal tanggal pendirian AHM, dan klaim viral bahwa tokoh tertentu ikut mendukung belum tentu tercermin di daftar anggota. Tulisan ini hanya memakai informasi dari situs AHM dan laporan New Scientist.
  • Kutipan diterjemahkan. Pernyataan para matematikawan di atas adalah terjemahan bebas dari laporan berbahasa Inggris.
  • Belum ada tanggapan perusahaan. Menurut New Scientist, OpenAI dan Anthropic tidak menanggapi permintaan komentar.

Coba di Sumber AI

Perdebatan AHM mengingatkan bahwa AI paling bermanfaat ketika dipakai untuk memperdalam pemahaman, bukan menggantikannya. Di Sumber AI, Anda bisa memakai chat untuk meminta penjelasan konsep langkah demi langkah, menguji pemahaman Anda dengan pertanyaan balik, atau merangkum bacaan yang panjang. Hasilnya tetap Anda periksa, pahami, dan tulis ulang dengan kata-kata sendiri.

Jadikan AI teman belajar yang membuat Anda berpikir lebih tajam. Kunjungi sumber.ai.id untuk mulai.

Sumber

Tulisan lain